Covid-19

*menulis untuk mengingat kita pernah berada di masa wabah corona covid-19 melanda dunia

Ibaratkan bumi memiliki tombol on-off, saat ini kita berada pada posisi off. Ga pernah terbayangkan sebelumnya, tiba2 kita semua dipaksa untuk berhenti dari segala kesibukan, tanpa perlawanan…

Yang memaksa kita berhenti adalah benda kecil yang bahkan ga keliatan sama mata kita. Partikelnya bisa menyebar dengan cepat melalui droplet penderita, menular dan masuk menyebar ke dalam tubuh

Benda itu bernama corona covid-19, virus yang fase terberatnya membuat si penderita menjadi sesak nafas hingga yang terparah bisa meninggal dunia.

Setiap harinya kita dijejali dengan berbagai informasi mengenai virus ini. Korban positif, yang berhasil sembuh, sampai yang harus menyerah dan meninggal 😢

Berhubung obatnya belum ditemukan, satu2nya upaya yang bisa kita lakukan untuk memutus rantai penyebarannya (selain dengan menjaga daya tahan tubuh agar tetap sehat) adalah dengan diam di rumah, tidak kemana2. Kalaupun terpaksa harus keluar rumah adalah dengan menjaga jarak, physical distancing

Anak sekolah libur, para pekerja kantoran bekerja dari rumah, beribadahpun dari rumah. Ini ga cuma berlaku di Indonesia, tapi di dunia…

Ga ada yang pernah menyangka peristiwa ini terjadi di abad ke 21, zaman yang udah serba modern dan semua terlena dengan kesibukannya masing2. Tiba2 saja bagaikan thanos menjentikan jarinya, semua lumpuh.

Baru2 ini saya denger obrolan di radio dengan salah satu legenda hip hop Indonesia. Beliau mengatakan, selama ini semesta diam dengan segala perlakuan manusia. Tiba saatnya ketika manusia dipaksa diam, berhenti merusak alam, memanipulasi, mencari keuntungan dengan caranya sendiri… Ga ada yang bisa dilakukan selain mencoba bertahan, dengan menyesuaikan diri.

Saya jadi ingat pelajaran IPA waktu sekolah dulu, bagaimana cara hewan menyesuaikan dirinya agar tidak punah. Dalam situasi ini, manusia perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan hal2 yang sebelumnya tidak terbayangkan untuk dilakukan : di rumah aja. Lumayan berat karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Kalau ternyata kita tidak bisa bertahan dan harus tereliminasi, itu adalah takdir yang harus kita terima. At least kita sudah berikhtiar. Berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa, karena ga ada satupun peristiwa yang terjadi selain dengan izinNya, even hanya selembar daun yg jatuh… 

But hey, let’s look at the bright side… Siapapun kita, saat ini membuktikan bahwa kita semua sama dihadapan Allah SWT

Yang biasanya sering menghabiskan waktu di luar rumah, sekarang sehari2nya di rumah bersama keluarga. Melihat perkembangan anak2 setiap saatnya, main bareng, habiskan waktu bersama.

Selama ini bisa kumpul tiap hari dengan keluarga mungkin momen yg mahal. Karena kesibukan kita, kita ga pernah punya waktu untuk kumpul bareng keluarga inti kita. Kita lebih mementingkan kehidupan sosial di luar sana instead of ketawa2 bareng anak2

Kita dipaksa kembali ke rumah…

Saat ini punya uang banyak ga ada artinya, karena kebutuhan yang ingin kita beli stocknya terbatas, malah ada beberapa yang langka

Mau jalan2? Sebagian besar kota di dunia menerapkan pembatasan bahkan lockdown. Ga bisa keluar masuk sembarangan. Dan untuk orang2 yang berpikiran normal, ga kepengen juga jalan2 dalam situasi kayak gini, karena sama aja ‘bunuh diri’ 😏

Semesta memaksa kita untuk mengikuti keinginannya, setelah selama ini kita berlaku ga adil kepada alam. Sekarang semuanya sama, punya uang atau nggak, sama2 ga bisa memenuhi semua kebutuhannya.

Mungkin selama ini kita ga sadar hal2 yang kita upload di media sosial; makanan2 enak, tempat2 yang kita kunjungi, outfit2 keren, udah bikin sedih beberapa orang yg ga sanggup melakukannya. Bukan hanya karena materi, tapi juga karena ga ada waktu untuk melakukannya

Tapi saat ini semua sama. Ga ada yang bisa makan mevvah, ga ada yg bisa pelesir, ga ada yg bisa belanja ini itu…

Kita semua ‘dipaksa’ pulang ke rumah. Tempat seharusnya kita berada, menghabiskan waktu bersama keluarga yang menjadi satu2nya tempat kita pulang.

because Home is where the Heart is…

(85)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *