AADC (Ada Apa Dengan Cina)

Mulai bulan maret kemarin, setiap hari yang saya lihat di TV cuma film Turning Red. Kalo saya ga complain, ga akan diganti ke tayangan lainnya ๐Ÿ˜”

Seru sih filmnya, seperti film2 Disney Pixar sebelumnya, kita ga terganggu dengan khayalan aneh film itu, bagaimana manusia bisa berubah jadi panda merah raksasa, yang ga mungkin terjadi di dunia nyata. Film ini kental dengan nuansa tradisi Tiongkok, karena tokoh utamanya -Mei- memang digambarkan sebagai keturunan Tionghoa yang menetap di Kanada.

Selain turning red, ada lagi film yang tayang di Disney yg juga kental dengan nuansa Cina. Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, merupakan super hero Asia pertama dalam Marvel. Tokoh super hero Asia ini diwakili dengan memilih karakter Cina.

Gara2 nonton film ini dalam waktu yang berdekatan, saya jadi mikir, mengapa industri film hollywood lagi sering mengangkat Cina? Kalau ga salah, waktu itu premier James Bond terbaru rencananya juga mau dihelat di Cina, tapi ga jadi karena keburu ada wabah covid.

Dulu saya sering mendengar istilah โ€˜Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cinaโ€™. Bahkan ada yang bilang, ini merupakan hadits. Walaupun belakangan dikatakan bahwa hadits ini lemah derajatnya, tapi menjadi semacam pernyataan bahwa dari dulu Cina memang sudah berjaya. Peradaban Cina masa lalu sudah maju, mereka menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan. Ramuan obat2 Cina sampai sekarang masih menjadi andalan orang2 selain dari obat2an medis.

Atlet2 Cina juag bukti luar biasanya negara ini. Hampir semua cabang olah raga dikuasai oleh mereka. Kerja keras mereka patut diacungi jempol. Saya ga ngerti gimana negara mereka mendoktrin rakyatnya untuk selalu semangat dan pantang menyerah.

Saya juga pernah membaca filosofi kerja kerasnya orang Cina yang ga pernah bekerja terkena sinar matahari. Ternyata maksudnya adalah, mereka selalu pergi sebelum matahari terbit, dan pulang setelah matahari terbenam ๐Ÿ˜ pantes ya orang Cina putih2 ๐Ÿ˜†

Dulu waktu masih kerja di daerah kota, saya sering beli mainan di asemka. Saya heran, kenapa ada mobil2an kecil made in cina yang harganya kalau dihitung perbuah hanya seribuan (saya beli serenteng isi sepuluh dengan harga kalau ga salah 13ribu ๐Ÿ˜). Saya hitung bahan dasarnya, ongkos dari cina ke indonesia, emangnya nutup? Ternyata mereka memangkas biaya tenaga kerja, karena mereka menggunakan jasa napi untuk produksinya. Keren kan? Kalo di sini sih napi2 gabut di penjara ๐Ÿ˜†

Seperti dua sisi mata uang, ada sisi baik dan ada sisi buruk dari segala sesuatu. Kita juga ga pernah tau gimana kondisi sesungguhnya di sana, kenapa sampai sebagian besar warganya โ€˜hijrahโ€™ keluar cina, tanpa pernah ada yang pulang kampung. Yang udah di Indonesia ya menjadi WNI, yang di malaysia ya udah aja jadi warga malaysia. Beranak pinak di negara orang sampai2 semua negara ada china townnya, di amerika pun ada. Bahkan di aceh sini juga ada china townnya di daerah peunayong ๐Ÿ˜

Jadi, seperti filosofi orang2 yang nyolong sendal di mesjid, kita ambil yang bagus, tinggalkan yang buruk. Hal2 bagus tentang cina, kegigihannya, bisa kita jadikan contoh untuk generasi muda memajukan negeri kita tercinta ini. Jangan jadi generasi rebahan yang cuma olah raga jempol buat scroll up aja ๐Ÿ˜

(111)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *